Lynx dan Leena berdiri di hadapan gua sempit yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar. Mereka tak berkata apa-apa, hanya saling bertukar pandang singkat sebelum akhirnya melangkah masuk.

Di dalam, suasananya sunyi dan lembap. Cahaya alami tak mampu menembus hingga ke dalam, namun beberapa meter kemudian, mereka menemukan cahaya biru redup yang terpancar dari celah batu di dinding. Cahaya itu berdenyut perlahan, seperti jantung yang berdetak.

"Inikah yang dimaksud Kanha...?" Batin Lynx sambil menyipitkan matanya. Dia mendekat, mengamati aura energi yang terpancar dari cahaya tersebut. Dengan satu sentuhan ringan, ruang di hadapan mereka bergetar. Angin menyeruak, dan dalam sekejap, cahaya biru itu berubah menjadi pusaran energi.

"Ini... portal teleportasi," gumam Lynx. "Meski terlihat berbeda, tapi aku yakin ini teleportasi."

Ia menoleh ke arah Leena. "Siap?"

Leena mengangguk.

Mereka melangkah masuk bersama, dan seketika, dunia di sekitar mereka berputar. Sensasi hampa menekan tubuh mereka sesaat, sebelum mereka kembali menapak di tanah.

Begitu mereka tiba, udara berubah. Berat. Dingin. Aroma lembap tanah tua dan bebatuan tercium sangat kuat. Lynx segera memejamkan mata, mengedarkan energi spiritualnya untuk memetakan lokasi.

"Ini dalam sekali," gumamnya. "Aku tidak menyangka mereka membangun tempat ini jauh di bawah tanah... Aku tidak terpikirkan untuk memeriksa hingga kedalaman tanah seperti ini. Aku terlalu fokus pada langit dan permukaan."

Leena ikut mengedarkan energi spiritualnya, dia memperhatikan sekeliling dengan cermat. Di kejauhan, mereka bisa merasakan banyak orang berkumpul. Ratusan, bahkan ribuan pasukan muda tengah duduk dalam posisi meditasi. Tubuh mereka tak bergerak, wajah mereka kosong, mata mereka terbuka namun tak fokus. Aura mereka kacau, seolah jiwa mereka tidak sepenuhnya hadir di sana. Dalam pengaruh sihir, mereka selalu terjaga dan siap bereaksi kapanpun mendapatkan perintah atau ada bahaya. Untuk mencari makanan dan berjaga, mereka biasanya di atur oleh Ekar dan Rafin yang memiliki kesadaran lebih tinggi dari mereka.

Beberapa penjaga berpakaian gelap berjalan pelan diruangan berbeda tidak jauh dari mereka, mengawasi para tahanan yang dirasakan dalam kondisi lemah.

Leena mendekat ke Lynx, berbicara setengah berbisik. "Apakah kamu yakin mereka semua suku Surya? Bagaimana orang sebanyak itu bisa di pengaruhi sihir?"

Lynx mengangguk. "Aku percaya dengan Kanha. Mereka semua pasti pemuda dari suku Surya. Mereka tidak sadar. Tubuh mereka dikendalikan, dan jiwa mereka mungkin sedang tertahan atau dibatasi."

Leena menatap mereka dalam diam, setelah berpikir sejenak, lalu dia menoleh kembali ke arah Lynx. "Kalau begitu... gunakan cara yang kamu lakukan sebelumnya. Kita bisa membawa mereka semua ke dunia kecil dan mengurung mereka sementara, sampai kita temukan cara menyadarkan mereka sekaigus membawa mereka pergi dari sini."

Lynx mengangguk setuju, tapi raut wajahnya menunjukkan kebingungan. "Jumlah mereka terlalu banyak. Aku tak yakin bisa membawa semuanya sekaligus. Kita bisa saja menggunakan kekuatan spiritual kita untuk menekan dan membuat mereka semua pingsan, tapi aku khawatir para penyihir itu akan mengetahui keberadaan kita dan mencelakakan para penduduk Surya."

"Kita tidak punya pilihan lain, secepatnya kamu membawa mereka secara bertahap ke dunia kecil. Aku akan berjaga dan menghadapi para penyihir sialan itu." kata Leena dengan nada tinggi. Dia merasa sangat marah setelah mengetahui nasib suku Surya yang di kurung selama beberapa tahun ini.

Lynx segera mundur dan memilih area tersembunyi di balik reruntuhan pilar batu. Ia membuka portal ke dunia kecil dan menstabilkan jalurnya agar tidak terlalu mencolok namun cukup untuk membuatnya bisa keluar masuk dengan mudah.

"Peringatkan Lala terlebih dahulu agar dia bersiaga. Aku akan mulai dari penjaga yang paling dekat."

Leena mengangguk dan masuk lebih dulu ke dalam dunia kecil. Di sana, ia mendekati Lala yang sedang bersama Kanha dan para korban sihir yang sudah dipindahkan sebelumnya.

"Lala! Lynx akan membawa masuk pasukan dalam jumlah besar. Mereka semua suku Surya yang berada di bawah pengaruh sihir seperti pasukan ini." Leena menunjuk ke arah pasukan yang masih tidak sadarkan diri.

Lala menoleh cepat, terkejut, tapi tak panik. Ia mengangguk cepat dan membuka kantung penyimpanan, mengeluarkan beberapa bola kecil berwarna perak.

"Bawalah ini, siapa tahu kalian akan membutuhkannya. Ini bom asap bius. Biasa dipakai mata-mata saat menyusup.  Aku melihat kultivasi mereka tidak terlalu tinggi, seharusnya benda ini berguna untuk membuat mereka tidak sadarkan diri selama beberapa waktu. Tapi... benda ini tidak akan mempan untuk para kultivator ranah tinggi."

"Iya kak, mereka mudah terpengaruh dengan asap bius. Aku pernah mengujinya dan berhasil." Kata Kanha dengan bangga.

Leena tersenyum lega. "Kamu hebat Kanha. Kurasa mereka hanya di ranah forging qi. Ini akan sangat membantu."

Tidak lama Lynx menyusul masuk dengan membawa puluhan penjaga yang sudah tidak sadarkan diri dan meletakkannya didalam formasi.  "Jumlah mereka sangat banyak. Dan mereka bereaksi saat mengetahui sesuatu telah terjadi di sekitar mereka. Untungnya aku bisa bergerak cepat dan membuat mereka semua tidak sadarkan diri agar tidak mengejutkan yang lain."

"Lynx, Lala memberiku ini. Dengan ini seharusnya bisa membuat mereka tidak sadarkan diri, jadi kita bisa membawa mereka kemari dengan mudah." Leena segera menyerahkan beberapa bom asap itu ke Lynx dan menjelaskan rencananya.

Segera Lynx dan Leena kembali menuju gua, mereka berpisah. Lynx dengan kecepatannya, melepaskan bom asap di antara pasukan. Sementara itu, Leena menuju para tahanan yang sudah tidak ada penjaga yang bertugas karena di lumpuhkan oleh Lynx.

Bom yang di letakkan oleh Lyx meledak dengan suara sssstt pelan, lalu menyebarkan asap keperakan yang melayang rendah. Dalam waktu singkat, para pasukan mulai terbatuk-batuk, tubuh mereka melemas, dan satu per satu tumbang.

Begitu semua tak sadarkan diri, Lynx bergerak cepat. Ia mengangkat tangannya dan mengerahkan energi sakti dalam jumlah besar. Aura biru keperakan menjalar seperti gelombang air yang tak terlihat, menyelimuti seluruh area.

Dengan satu gerakan mengayun, ratusan tubuh melayang ke udara, seperti ditiup angin lembut, dan perlahan bergerak ke arah portal.

Lynx memastikan tiap kelompok bergerak stabil sebelum dipindahkan ke dalam dunia kecil.

Beberapa kelompok besar berhasil dipindahkan dengan sukses.

Di tempat tahanan, tampak para tetua dan anak-anak suku Surya yang dikurung. Wajah mereka pucat dan tubuh mereka kurus, tapi mata mereka masih memancarkan harapan.

Leena segera mengenali wajah-wajah tersebut, wajah-wajah yang menemaninya berjuang di planet Surya. Rasa sedih Leena bertambah setelah menyaksikan langsung penampilan para suku Surya yang di tahan, mereka kekurangan makanan karena di berikan seadanya sehingga tubuh mereka terlihat lebih kurus.

"Nenek Drona, tetua Ayunga, tetua Widhi, tetua Rasyid apa kalian baik-baik saja?" bisik Leena pelan.

Para penduduk Surya yang sebagian besar tertidur segera terbangun dengan kaget, mereka tidak menduga melihat sosok wanita cantik memanggil nama tetua mereka.

"Leena? Nona Leena ini kamu?" tanya beberapa penduduk yang mendekati jeruji penjara.

Leena menganggukkan kepala,"Kalian mundurlah!"

Leena segera mengayunkan pedangnya kearah pintu yang mengurung mereka. Dalam sekejap, pintu tersebut hancur menjadi beberapa bagian.

"Kalian semua ikuti aku. Kita harus segera pergi dari tempat ini." kata Leena berbisik pelan. Dia segera mengarahkan para penduduk Surya untuk masuk dalam portal.

Dengan penuh semangat dan kegembiraan, para penduduk Surya bekerjasama untuk dapat bangkit dan bergerak menuju arah yang ditunjuk. Mereka merasa sangat bersyukur akhirnya seseorang menyelamatkan mereka.

Tiba-tiba energi pedang meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah para penduduk. Jika mengenai sasaran, sudah pasti puluhan penduduk akan tewas terpotong.

Leena yang merasakan adanya bahaya segera melompat dan menghalangi serangan. Dia menghunus pedangnya untuk menangkis.

"Bagus. Tanpa perlu bersusah payah kalian ternyata datang ketempat ini. Nyonya pasti akan gembira jika aku berhasil menangkap dan menyerahkan kalian kepadanya." teriak marah seorang wanita. Dia yang sedang berusaha memulihkan diri, mendadak merasakan adanya fluktuasi energi qi yang muncul di tempatnya. Tanpa pikir panjang, dia segera ke tempat para tahanan bersama ketiga rekannya yang lain.

Di tempat tersebut, dia kaget melihat Lynx sedang menerbangkan ratusan pasukan yang sedang dalam pengaruh sihir dan kini pasukan tersebut terlihat tidak sadarkan diri. 

Dia menatap tajam ke arah lain darimana energi spiritual dia rasakan dan merasa marah melihat Leena sedang membawa kabur para tahanan. Dengan cepat dia mengerahkan serangan untuk membunuh sebagian para penduduk Surya untuk peringatan, namun ternyata serangan tersebut berhasil di lumpuhkan oleh Leena.  

"Rira?" Leena menatap sosok wanita tersebut dangan rasa tidak percaya.

